Selasa, 06 April 2010

Saudaraku, Perhatikan Benar-Benar Shalatmu!

Fastabiqul Khairat

Oleh: KH.S.Faroji Ar-Robbani Azhamatkhan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

"Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti syahwatnya (keinginannya), maka mereka kelak akan tersesat"(QS; Maryam :59)

'Ulama kita, sebagai kaum yang dikaruniai kefaqihan dalam perkara agama ini, mengomentari ayat diatas bahwa: penyebab mereka terjatuh ke dalam jurang kesesatan adalah kebiasaan mengulur-ulur waktu Shalat, sehingga mereka mengerjakan diluar waktunya. Abdullah Ibnu Mas'ud radiallahu 'anhu, ketika seseorang berkata kepada beliau, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jall begitu sering menyinggung perkara Shalat dalam al-Qur'an, (diantaranya): (QS.al-Ma'un :5) "Yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya", (QS.al-Ma'arij :23) "Mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya", (QS.al-Ma'arij :34): "Dan orang-orang yang memelihara shalatnya", Beliau berkata :'Yaitu shalat pada waktunya'."

Saudaraku seiman!
Nabi kita tercinta, dalam sebuah haditsnya mengancam orang-orang yang meremehkan shalatnya. Beliau suatu ketika berkata pada sahabatnya :

“Apakah kalian tahu apa yang Rabb kalian katakan?, para sahabat menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu”(beliau mengulanginya sebanyak tiga kali).Kemudian beliau berkata,”Ia (Allah) berfirman: ‘Demi kemuliaan & keagungan-Ku tidaklah seseorang shalat pada waktunya kecuali Aku masukkan ia ke dalam surga, dan tidaklah seseorang shalat di luar waktunya, jika Aku mau Aku merahmatinya, dan jika tidak, Aku akan mengadzabnya.”(HR.at-Thabrani)


Cukuplah hadits ini sebagai ‘cambuk panas’ yang menggetarkan atas kelalaian kita selama ini. Betapa tidak, jika shalat yang dikerjakan di luar waktunya saja, kata ‘adzab‘(siksaan) seakan telah merobek gendang telinga kita, lalu bagaimana lagi dengan keberanian kita meninggalkannya secara mutlaq, yang konsekwensinya adalah kekufuran mengundang murka Allah Azza wa Jalla.

Pantaslah, jika Nabi Muhammad yang penuh kasih terhadap ummatnya, begitu besar perhatian Beliau terhadap perkara ini, tak terkecuali ketika beliau dalam keadaan sakaratulmaut, ungkapan paling akhir yang keluar dari lisan mulia Beliau adalah :
“(Aku wanti-wantikan kepada kalian) perkara shalat, serta budak-budak yang kalian miliki.”(HR.al-Hakim)
Ini tiada lain karena Shalat adalah perkara yang sangat krusial dalam ad-Dien ini.

Saudaraku!
Jadikanlah Beliau [Nabi Muhammad] ‘qudwah‘ kita dalam ibadah ini. Aisyah radiallahu anha telah meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah Muhammad Saw shalat malam hingga kaki beliau bengkak, maka Aisyah berkata: “Ya Rasulullah, mengapa engkau sampai melakukan hal seperti ini, padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”, Beliau pun menjawab: “Wahai Aisyah, (jika demikian) apakah Aku tidak pantas menjadi hamba-Nya yang paling bersyukur?”

Demikian halnya para sahabat Beliau radiallahu anhum. Lihatlah sahabat mulia Umar bin al-Khatthab radiallahu anhu, setelah beliau selesai shalat malam, beliau membangunkan kelurganya sambil berkata, “Shalat…shalat…” seiring membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla:

"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik diakhirat adalah bagi orang yang bertaqwa."(QS.thaha : 132)[5]


Bahkan ketika beliau telah ditikam oleh Abu lu’lu’ al-Majusi, peristiwa yang mengantarkan beliau menggapai syahadah fi sabilillah, ketika itu beliau sempat tak sadarkan diri dalam beberapa hari. Maka Para Sahabat ingin membangunkan beliau untuk shalat, salah seorang diantara mereka berkata “bangunkanlah dia untuk shalat, sesungguhnya kalian tidaklah membangunkannya kecuali karena shalat”, mereka pun berkata “shalat..shalat ya Amir al-Mu’minin..!”, tiba-tiba beliau kaget dan terbangun sambil berkata “shalat..shalat..sesungguhnya tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat”, beliaupun mengerjakan shalat sementara darah beliau masih terus bercucuran.

Itulah gambaran Nabi dan Para Sahabatnya radiallahu anhum dalam memelihara dan menjaga shalat, generasi terbaik ummat ini, alumni Madrasah an-Nubuwah, hasil tarbiyah Nabi Muhammad Saw selama kurang lebih duapuluh tiga tahun.
Fasaddidu wa qaaribu…!

Sabtu, 27 Maret 2010

Oleh: KH.S.Faroji Ar-Robbani Al-Azhamatkhan

Salah satu sifat yang berpengaruh besar pada tindakan seseorang adalah kejujuran. Pekerjaan yang dilakukan secara individual atau kelompok akan gagal manakala kebohongan terjadi. Krisis bangsa ini pun terjadi karena transparansi sangat mahal harganya. Istilah “kebohongan publik” makin populer dalam pemberitaan media cetak maupun elektronik. Masyarakat juga dibosankan dengan berbagai kilah dan dalih yang bermunculan.

Kejujuran masih sulit didapatkan ketika proses penataan kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap kita mendengar dugaan korupsi yang merugikan negara trilyunan rupiah, menguap begitu saja tanpa penyelesain hukum yang berarti. Bahkan, fungsi hukum yang telah melahirkan “kebohongan legitimate” tidaklah berlebihan. Pasal-pasal karet pun jadi primadona, untuk melindungi para tersangka. Persidangan dihadirkan lengkap dengan berbagai atraksi putar-balik ayat dan pasal.

Situasi ini nampaknya harus dicarikan obat agar tidak menjadi budaya masyarakat. Ada satu kisah menarik tentang sahabat Rasulullah yang mengaku punya kebiasaan mabuk, judi, zina dan sifat jelek lainnya. Ia meminta kepada Rasullah satu petuah agar bisa jadi muslim yang shalih. Nabi bersabda “Kamu jangan berbohong”. Lalu orang tersebut, berkata “cuman itu, ya Rasulullah”. “Iya, laksanakanlah nanti datang lagi ke saya” kata nabi.

Selanjutnya, ketika ingin melakukan judi, dia berguman dalam hatinya, “kalau aku melakukan kebiasaan itu, dan nabi bertanya kepadaku, bagaimana nanti aku menjawabnya, sementara tidak boleh berbohong” . Akhirnya perbuatan itu tidak terulang lagi, setiap dia mengingat pesan Nabi. Efeknya, bukan saja telah menghentikan kebiasaan judi, tapi semua perbuatan terjela yang biasa dia lakukan.

Lewat beberapa hari, nabi bertemu dengannya dan bertanya “Apakah kamu masih melakukan perbuatan tercela yang pernah kamu ceritakan?” . Orang itu menjawab “ Semuanya sudah saya tinggalkan ya Rasulullah”. “Kenapa ?” , lanjut Nabi. Dengan enteng orang itu menjawab “Setiap kali aku ingin melakukannya, dilanda kebingunan tentang jawabannya padahal paduka menyuruh untuk tidak bohong”.

Begitulah sekelumit efek domino dari kejujuran yang dapat dijadikan pelajaran. Kalau saja para pemimpin memahaminya, niscaya negeri ini tidak terperosok ke dalam krisis yang sekarang terjadi. Masih banyak perbuatan dan perkataan dari para pemimpin kita yang paralel dengan dugaan tindak pindana korupsi. Kecuali informasi tidak utuh, penyelesainnya pun tidak pernah tuntas.

Peristiwa sahabat nabi di atas, sebenarnya akan jadi penangkal kalaupun peraturan perundangan-undangan yang ada bisa melindungi dirinya. Tinggal bagaimana para pemimpin memberikan tauladan dengan melakukannya langsung (ibda bi nafsik). Tidak menjadi retorika manis ketika bicara di publik, akan tetapi bersemai dalam setiap tugas mengemban amanat kepemimpinannya.Wa Allah ‘alam bi shawab.
Fastabiqul Khairat

Kamis, 25 Maret 2010

Hukum Lafadz Sayyidina

Kata-kata “sayyidina” atau ”tuan” atau “yang mulia” seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:

الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ

“Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau).” (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal 156).


Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:

عن أبي هريرةقا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ


“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” (Shahih Muslim, 4223).

Hadits ini menyatakan bahwa nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani:

“Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits 'saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat.' Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat”. (dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)

Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.

Lalu bagaimana dengan “hadits” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayyidina di dalam shalat?

لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ

“Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat”

Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayyidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.

Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak singkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ , Sehingga tidak bisa dikatakan لَاتُسَيِّدُوْنِي

Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina dalam shalat?

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat.

Oleh Abdullah Mustaghfirin A