Oleh: KH.S.Faroji Ar-Robbani Azhamatkhan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
"Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti syahwatnya (keinginannya), maka mereka kelak akan tersesat"(QS; Maryam :59)
'Ulama kita, sebagai kaum yang dikaruniai kefaqihan dalam perkara agama ini, mengomentari ayat diatas bahwa: penyebab mereka terjatuh ke dalam jurang kesesatan adalah kebiasaan mengulur-ulur waktu Shalat, sehingga mereka mengerjakan diluar waktunya. Abdullah Ibnu Mas'ud radiallahu 'anhu, ketika seseorang berkata kepada beliau, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jall begitu sering menyinggung perkara Shalat dalam al-Qur'an, (diantaranya): (QS.al-Ma'un :5) "Yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya", (QS.al-Ma'arij :23) "Mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya", (QS.al-Ma'arij :34): "Dan orang-orang yang memelihara shalatnya", Beliau berkata :'Yaitu shalat pada waktunya'."
Saudaraku seiman!
Nabi kita tercinta, dalam sebuah haditsnya mengancam orang-orang yang meremehkan shalatnya. Beliau suatu ketika berkata pada sahabatnya :
“Apakah kalian tahu apa yang Rabb kalian katakan?, para sahabat menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu”(beliau mengulanginya sebanyak tiga kali).Kemudian beliau berkata,”Ia (Allah) berfirman: ‘Demi kemuliaan & keagungan-Ku tidaklah seseorang shalat pada waktunya kecuali Aku masukkan ia ke dalam surga, dan tidaklah seseorang shalat di luar waktunya, jika Aku mau Aku merahmatinya, dan jika tidak, Aku akan mengadzabnya.”(HR.at-Thabrani)
Cukuplah hadits ini sebagai ‘cambuk panas’ yang menggetarkan atas kelalaian kita selama ini. Betapa tidak, jika shalat yang dikerjakan di luar waktunya saja, kata ‘adzab‘(siksaan) seakan telah merobek gendang telinga kita, lalu bagaimana lagi dengan keberanian kita meninggalkannya secara mutlaq, yang konsekwensinya adalah kekufuran mengundang murka Allah Azza wa Jalla.
Pantaslah, jika Nabi Muhammad yang penuh kasih terhadap ummatnya, begitu besar perhatian Beliau terhadap perkara ini, tak terkecuali ketika beliau dalam keadaan sakaratulmaut, ungkapan paling akhir yang keluar dari lisan mulia Beliau adalah :
“(Aku wanti-wantikan kepada kalian) perkara shalat, serta budak-budak yang kalian miliki.”(HR.al-Hakim)
Ini tiada lain karena Shalat adalah perkara yang sangat krusial dalam ad-Dien ini.
Saudaraku!
Jadikanlah Beliau [Nabi Muhammad] ‘qudwah‘ kita dalam ibadah ini. Aisyah radiallahu anha telah meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah Muhammad Saw shalat malam hingga kaki beliau bengkak, maka Aisyah berkata: “Ya Rasulullah, mengapa engkau sampai melakukan hal seperti ini, padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”, Beliau pun menjawab: “Wahai Aisyah, (jika demikian) apakah Aku tidak pantas menjadi hamba-Nya yang paling bersyukur?”
Demikian halnya para sahabat Beliau radiallahu anhum. Lihatlah sahabat mulia Umar bin al-Khatthab radiallahu anhu, setelah beliau selesai shalat malam, beliau membangunkan kelurganya sambil berkata, “Shalat…shalat…” seiring membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla:
"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik diakhirat adalah bagi orang yang bertaqwa."(QS.thaha : 132)[5]
Bahkan ketika beliau telah ditikam oleh Abu lu’lu’ al-Majusi, peristiwa yang mengantarkan beliau menggapai syahadah fi sabilillah, ketika itu beliau sempat tak sadarkan diri dalam beberapa hari. Maka Para Sahabat ingin membangunkan beliau untuk shalat, salah seorang diantara mereka berkata “bangunkanlah dia untuk shalat, sesungguhnya kalian tidaklah membangunkannya kecuali karena shalat”, mereka pun berkata “shalat..shalat ya Amir al-Mu’minin..!”, tiba-tiba beliau kaget dan terbangun sambil berkata “shalat..shalat..sesungguhnya tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat”, beliaupun mengerjakan shalat sementara darah beliau masih terus bercucuran.
Itulah gambaran Nabi dan Para Sahabatnya radiallahu anhum dalam memelihara dan menjaga shalat, generasi terbaik ummat ini, alumni Madrasah an-Nubuwah, hasil tarbiyah Nabi Muhammad Saw selama kurang lebih duapuluh tiga tahun.
Fasaddidu wa qaaribu…!

